Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Buku yang Disisipi Bom Selalu Tebal, Cover Diduga Tak Cerminkan Isi Buku

Written By Saiful Bahri on Kamis, 17 Maret 2011 | 01.22

 

Ken Yunita - detikNews

Jakarta - Empat bom buku dikirimkan kepada empat orang dengan "garis perjuangan" berbeda. Semua buku itu berciri-ciri sama: tebal lebih 400 halaman.

Buku tebal menjadi syarat karena pemasang bom membutuhkan wadah yang cukup lapang untuk memasang rangkaiannya. Buku itu akan meledak bila ditarik di bagian "chip" yang ada di tengah buku, sehingga bom buku semacam itu dikenal sebagai "bom tarik."

Bom buku untuk Ulil Abshar Abdalla dan Komjen Gories Mere yang berjudul "Mereka harus dibunuh" setebal 412 halaman. Sedangkan bom buku terbaru untuk Ahmad Dhani berjudul "Yahudi Militan" setebal 436 halaman. Buku tebal juga dikirimkan kepada Japto S dengan judul "Masih Adakah Pancasila?"

Bom tarik lazimnya tidak dimaksudkan untuk membunuh, melainkan hanya menakut-nakuti atau maksimal melukai saja.

Lalu apakah buku tebal itu isinya mencerminkan judul buku? Besar kemungkinan tidak. Bisa jadi si pengirim hanya khusus membuat cover buku saja, sedangkan isi buku dicomot dari buku berjudul lain. Kemudian pengirim paket merangkaikan cover dengan buku -- yang mungkin asli -- itu.

Kekhususan cover buku itu bisa dilihat dari bom buku yang dikirimkan untuk Ahmad Dhani. Buku bersampul warna hijau dihiasi gambar pentolan band Dewa itu. Gambar Dhani yang berjenggot tampak mengenakan jubah panjang berornamen emas. Sedangkan tangan kirinya memegang sebuah benda berwarna emas dan berbentuk bulat.

Buku yang dikirimkan kepada Ulil dan Japto, saat dicek di toko buku di Jakarta, juga tidak ditemukan. Modus pengirim bom buku itu juga sama, yaitu melampirkan surat dengan identitas fiktif, yang isinya meminta kata pengantar dan interview atas buku tersebut.


sumber: detik.com

0 komentar:

Posting Komentar